Thursday, July 12, 2018

Peluang Pasar Usaha Pengolahan Ikan Nila

Peluang Pasar Usaha Pengolahan Ikan Nila


Akhir-akhir ini banyak masyarakat yang membuka usaha di bidang pengolahan makanan, khususnya ikan. Ada beberapa bidang usaha yang dapat menghasilkan keuntungan dari ikan nila. Selain restoran, wisata kuliner yang akhir-akhir ini berkembang dapat dijadikan sebagai salah satu peluang usaha baru dengan ikan nila sebagai menu andalan yang digemari konsumen.

Ikan nila dapat dimasak dengan cara digoreng, dibakar, dibuat sup, atau dimasak pindang. Selain dalam bentuk masakan, ikan nila dapat pula diolah dalam bentuk baso ikan, abon ikan nila, dan dendeng ikan nila. Bentuk-bentuk olahan tersebut kini mulai dikenal dan diminati oleh masyarakat.


Hasil Panen Ikan Nila.

Peluang Ekspor Ikan Nila

Untuk pasar ekspor, ikan nila yang diminati berbobot minimum 500 gram per ekor (2 ekor/kg). Hal ini dapat dimengerti karena ekspor ikan nila adalah ekspor dalam bentuk filet (daging) baik segar maupun beku, sehingga diperlukan bobot ikan yang besar agar diperoleh volume daging yang memadai. Dari ikan nila seberat 500 gram diperoleh filet sekitar 350-400 gram (setelah tulang, kepala, sirip, dan isi perut dibuang).

Pengecualian terjadi untuk pasar ekspor Timur Tengah. Mereka membutuhkan ikan nila konsumsi berukuran lebih kecil, yakni 250 g/ekor (4 ekor/kg) dalam bentuk utuh. Ikan nila seukuran ini dikabarkan untuk pemenuhan konsumsi pekerja asing asal Asia yang lidahnya sudah familiar dengan ikan tersebut.

Ada sejumlah alasan mengapa filet ikan nila sangat digemari oleh pasar ikan dunia. Warna daging ikan nila putih bersih, kenyal, dan tebal seperti daging ikan kakap merah. Karena itu, ikan nila sering kali digunakan sebagai pensubstitusi (pengganti) kakap merah yang kadang kala susah diperoleh karena merupakan ikan hasil tangkapan alam di laut. Selain itu, rasa daging ikan nila netral (tawar), sehingga mudah diolah untuk berbagai aneka menu masakan.

Karena ikan nila merupakan hasil budi daya, maka pasar menjadi semakin tertarik, sebab pasokannya bisa diperoleh setiap saat tanpa terpengaruh musim. Permintaan pasar dunia terhadap ikan nila baik dalam bentuk filet (segar atau beku) maupun nila utuh diperkirakan sebesar 559,02 juta ton. Permintaan terbesar datang dari Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Hong Kong, dan beberapa negara tertentu di Eropa. Walaupun di Eropa ikan nila masih dianggap sebagai komoditas baru, tetapi permintaannya setiap tahun tidak kurang dari 10.000 ton. Belakangan, permintaan dari negara-negara Timur Tengah pun diprediksi mengalami kenaikan.

Hingga saat ini, pemasok utama filet ikan nila terbesar di dunia adalah Cina, kemudian disusul Indonesia, Thailand, Taiwan, Ekuador, Vietnam, dan Filipina. Jika semua pasokan dari negara pemasok utama ikan nila tersebut ditotal, ternyata jumlahnya masih jauh di bawah angka kebutuhannya. Bahkan, diperkirakan hanya terpenuhi separuh dari total kebutuhan dunia.

Khusus untuk Amerika Serikat, menurut catatan National Marine Fisheries Service, negara tersebut mengimpor ikan nila sebanyak 158.253 ton (2006) atau naik 14,8%dari tahun sebelumnya. Dari jumlah ini, 74.381 ton berupa filet beku. Sekitar 85% produk ikan nila yang diimpor AS berasal dari Cina. Sebagian lagi dipasok dari Indonesia,Taiwan, Thailand, Ekuador, dan Vietnam.

Ekspor filet ikan nila dari Indonesia hingga saat ini baru mampu melayani sekitar 6% dari permintaan pasar Amerika (sekitar 8.000 ton per tahun). Sementara itu, untuk pasar dunia, Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 0,1% dari total permintaan pasar dunia yang sebesar 559,02 juta ton (Agrina, 2007). Harga filet ikan nila asal Indonesia di pasaran ekspor pun dilaporkan relatif tinggi, setiap kilogram dibanderol rata-rata USS5, alias hampir Rp 50.000 (Trust, 2005).

Harga tersebut jauh lebih tinggi dari pada harga produk filet ikan nila dari Cina yang di pasar AS hanya dihargai rata-rata US$3/kg. Khusus untuk ikan nila utuh beku, AS mematok harga US$ 1,5/kg.Tidak diketahui secara pasti apa penyebab tingginya harga jual produk nila asal Indonesia dibandingkan dengan Cina. Namun yang jelas, produk nila Indonesia mendapat penilaian yang baik dari importir Amerika terkait aspek pemeliharaan dan penanganan selama proses pascapanen.