Monday, May 1, 2017

Rasio Keuangan sebagai Alat Manajemen | Saran-Saran Penggunaan Analisis Rasio | rasio keuangan bukanlah tujuan, melainkan hanya alat

Rasio Keuangan sebagai Alat Manajemen

Dalam mengelola perusahaan, akan jauh lebih baik jika kita mengetahui keadaan faktual (sebenarnya) perusahaan tersebut. Keadaan yang dimaksud mencakup kesehatan keuangan perusahaan, problem-problem yang sedang dihadapi dan penyebab-penyebabnya, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan perusahaan. Pengetahuan yang baik tentang hal tersebut akan dapat meningkatkan mutu atau efektivitas manajemen, baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan, pengarahan, maupun pengendalian. Salah satu cara untuk mendeteksi kesehatan suatu perusahaan dan problem-problem yang sedang dihadapinya adalah melalui analisis rasio-rasio keuangannya.
Analisis rasio-rasio keuangan memudahkan kita mengetahui dalam hal-hal atau bidang-bidang apa saja perusahaan sedang menghadapi problem-problem serius, bahkan kritis (jika ada), sehingga dapat dilakukan perbaikan-perbaikan yang serius untuk mencegah semakin memburuknya kondisi atau kesehatan perusahaan. Jika itu tidak dilakukan, akan mengganggu bahkan membuat terhentinya aktivitas perusahaan pada masa-masa berikutnya.

Analisis rasio-rasio keuangan juga membantu kita mengetahui kinerja perusahaan baik secara keseluruhan maupun mendetail dari waktu ke waktu, termasuk sumber daya manusianya. Misalnya analisis terhadap hasil penjualan, biaya dan beban, pengadaan barang, produksi, pergudangan, distribusi dan bidang-bidang lainnya, termasuk melakukan evaluasi dan pengukuran produktivitas atau kinerja pimpinan dan para karyawannya.

Analisis rasio-rasio keuangan juga membantu kita mengetahui kinerja perusahaan baik secara keseluruhan maupun mendetail dari waktu ke waktu, termasuk sumber daya manusianya. Misalnya analisis terhadap hasil penjualan, biaya dan beban, pengadaan barang, produksi, pergudangan, distribusi dan bidang-bidang lainnya, termasuk melakukan evaluasi dan pengukuran produktivitas atau kinerja pimpinan dan para karyawannya.
Analisis rasio adalah cara menganalisis dengan menggunakan perhitungan-perhitungan perbandingan atas data kuantitatif yang ditunjukkan dalam Neraca atau Laporan Laba Rugi perusahaan. Penggunaan analisis rasio hanya akan ada artinya jika ada suatu standar tertentu sebagai pedoman untuk penilaian. Apabila belum ada, sebaiknya dikombinasikan dengan analisis komparatif sehingga perkembangan rasio-rasio tersebut dapat dilihat dari waktu ke waktu.

Rasio-rasio keuangan suatu perusahaan dapat diperbandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis, yang mempunyai skala dan lingkungan yang kurang lebih sama.

Analisis rasio keuangan memiliki keterbatasan-keterbatasan atau kelemahan-kelemahan, antara lain:

  1. Mutu analisis rasio akan bergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang digunakan, yang sebagian besar diambil dari Neraca dan Laporan Laba Rugi perusahaan (selain dari Buku-Buku Pembantu).
  2. Biasanya, analisis rasio terutama digunakan untuk memprediksikan masa depan serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan perusahaan, tetapi sering tidak mengungkap penyebab-penyebabnya. Hal itu terjadi karena data yang digunakan umumnya berasal dari data masa lalu (data historis). Data historis ini, mungkin bukan merupakan hasil atau kesimpulan yang akurat dari kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.
  3. Apabila jumlah penyusutan dan amortisasi relatif cukup besar (signifikan), angka rasio laba dapat menyesatkan.
  4. Informasi-informasi penting yang diperlukan justru sering kali tidak tercantum dalam laporan keuangan. Kebijakan pemerintah dan aktivitas serikat pekerja, perubahan manajemen, perubahan industri, perkembangan teknologi, dan aktivitas para pesaing juga perlu dipertimbangkan dalam penilaian kinerja perusahaan, termasuk sumber daya manusianya.
  5. Sulitnya mencapai komparabilitas yang tinggi di antara perusahaan-perusahaan dalam industri tertentu yang sedang diperbandingkan. Kesulitan tersebut terjadi karena:
  • Terdapat perbedaan mendasar dalam pelaksanaan prinsip dan prosedur akuntansi yang digunakan.
  • Prinsip, prosedur, dan asumsi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan sering berubah sehingga sulit untuk membuat penilaian yang akurat terhadap maju-mundumya perusahaan.
Walaupun analisis rasio keuangan mempunyai kelemahan-kelemahan tersebut, bukan berarti menggunakan analisis rasio keuangan tidak ada gunanya. Analisis rasio keuangan tetap dapat digunakan, bahkan dianjurkan, karena banyak manfaatnya bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Dari penjelasan tersebut, kita mengetahui bahwa analisis rasio keuangan hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang melaksanakan administrasi keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip atau kaidah-kaidah akuntasi yang benar sehingga Neraca dan Laporan Laba Rugi yang dihasilkannya memiliki data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Berkaitan dengan hal tersebut, sebelum memahami analisis rasio-rasio keuangan, sebaiknya Anda memahami (terlebih dahulu) Neraca, Laporan Laba Rugi, dan hal-hal yang berkaitan dengan komponen laporan keuangan dan tidak dapat dipisahkan.

Sebuah perusahaan dapat mempunyai kegiatan yang berhubungan dengan usaha pokoknya saja. Akan tetapi, ada juga perusahaan yang mempunyai kegiatan lain di luar usaha pokoknya tersebut. Kegiatan yang berhubungan dengan usaha pokok tersebut disebut kegiatan operasi. Kegiatan yang tidak merupakan usaha kegiatan pokok disebut kegiatan non-operasi. Pada umumnya, evaluasi atau analisis rasio keuangan lebih ditekankan pada unsur-unsur yang berkaitan dengan kegiatan operasi, walaupun jika diperlukan, dapat juga dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan non-operasi. Dalam buku ini, apabila suatu elemen rasio tidak dijelaskan secara terperinci, berarti elemen-elemen rasio dimaksud, sesuai dengan kebutuhan analisis, dapat berasal dari kegiatan operasi saja, atau dari seluruh kegiatan, baik operasi maupun non-operasi.

Walaupun suatu rasio keuangan dapat bermanfaat, namun tidak dapat dianggap konklusif. Rasio itu harus dibandingkan dengan rata-rata industri tahun lalu, jumlah yang direncanakan, atau hal-hal lain untuk mendapatkan manfaat maksimum.

Kita dapat membuat analisis rasio sebanyak-banyaknya, bergantung pada kebutuhan. Akan tetapi, demi kemudahan para pembaca dalam memahami arti, fungsi, dan penjelasan dari contoh.

Saran-Saran Penggunaan Analisis Rasio

  1. Agar analisis rasio mencapai tujuannya, sebaiknya angka-angka besaran rasio diperbandingkan dari tahun ke tahun. Dengan cara demikian, dapat dilihat perkembangan atau maju mundurnya kinerja perusahaan. Akan lebih baik lagi jika diperbandingkan juga dengan rasio yang sama dengan perusahaan-perusahaan lain sejenis (perusahaan saingan) untuk dapat melihat apakah perusahaan kita lebih baik atau lebih buruk daripada mereka. Hanya dengan cara membandingkan angka-angka rasio perusahaan sendiri dari tahun ke tahun dan membandingkannya dengan perusahaan-perusahaan lain yang sejenis kita mempunyai tolok ukur penilaian. Sayangnya, sampai saat ini di Indonesia, untuk mendapatkan rasio-rasio keuangan dari perusahaan lain yang sejenis atau hampir sejenis biasanya tidaklah mudah. Dengan mempunyai tolok ukur ini, analisis rasio akan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi perusahaan dalam hubungannya dengan kebijakan-kebijakan yang akan diambil untuk masa-masa mendatang.
  2. Dari rasio-rasio keuangan yang banyak ini, sebaiknya dipilih beberapa jenis rasio yang dianggap penting bagi tujuan perusahaan (biasanya kurang lebih hanya 6 jenis rasio).
  3. Sajikanlah rasio keuangan dalam bentuk yang mudah dibaca, lengkap dengan standar yang dikehendaki, berdasarkan usaha-usaha sejenis dan atas permintaan pihak ketiga (bank).
  4. Pusatkanlah perhatian pada penyimpangan-penyimpangan serta perkembangan yang mencolok dan terus-menerus.
  5. Carilah penyebab penyimpangan dan perkembangan ini dengan menghubungkan antara rasio yang satu dan yang lain.
Kembali ke poin 2 di atas, banyak perusahaan yang hanya menggunakan 6-8 rasio kunci untuk keperluan analisis keuangannya, yaitu:
  1. Rasio Lancar (Current Ratio)
  2. Rasio Cair (Arid Test Ratio)
  3. Retum On Investment (ROI)
  4. Retum On Equity (ROE)
  5. Periode Pengumpulan Piutang Rata-Rata (Average CoUection Period)
  6. Perputaran Persediaan (Inventory Tumover)
  7. Rasio Total Kewajiban atas Total Harta (Debt ToAsset/Debt To Worth)
  8. Rasio Laba atas Pendapatan (Profit On Saks!Profit Margin)
Ingatlah bahwa rasio keuangan bukanlah tujuan, melainkan hanya alat.

Dalam rangka memilih analisis rasio mana yang akan dipilih oleh perusahaan, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan perusahaan. Jawaban untuk hal ini dapat diketahui melalui pertanyaan-pertanyaan yang tepat seperti berikut.
  1. Apakah perusahaan memiliki terlalu banyak uang kas? Atau apakah uang kas yang dimiliki telah mencukupi untuk berbagai keperluan pengeluaran perusahaan?
  2. Apakah perusahaan mempunyai piutang yang telah jatuh tempo yang selama kurun waktu terakhir ini besarnya terus meningkat dengan tajam?
  3. Apakah perusahaan mempunyai nilai persediaan yang berlebihan yang terus meningkat secara tajam dari waktu ke waktu?
  4. Apakah perusahaan saat ini dalam keadaan telah melakukan investasi (tertanam dalam aktiva tetap) yang berlebihan yang terus meningkat tajam dari waktu ke waktu?
  5. Apakah perusahaan selama beberapa waktu terakhir ini selalu dalam keadaan kekurangan modal kerja yang terus meningkat tajam?
  6. Apakah utang dirasa berlebihan dan cenderung meningkat tajam dari waktu ke waktu?
  7. Apakah hasil penjualan telah memadai?
  8. Apakah perusahaan menderita rugi? Apakah laba yang diperoleh cenderung menurun? Mengapa?
  9. Apakah perusahaan telah membagi laba terlalu banyak kepada pemegang saham (dividen)?
  10. Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya mengenai kebutuhan atau permasalahan yang sedang dihadapi oleh perusahaan.