Search This Blog

Selasa, 12 Januari 2016

Kopi Malabar "Sang Pembebas Hutang"

 Kekuatan Berfikir Positif 
 Kopi Malabar Sang Pebebas Hutang

Sore itu sungguh istimewa. Hujan pada akhir Desember tampak turun malu-malu dan enggan. Menyeruput secangkir kopi malabar terasa sangat nikmat dikaki pegunungan Malabar yang berhawa dingin.
Keramahan penyaji hanyalah secuil kenikmatan bawaan dari kopi beraroma khas itu. Cerita kelahiran biji kopi itu menambah keakraban dengan petani, penyaji dan kopi itu sendiri. Kabut sore mulai menyelimuti lereng. Nuri masih berkisah tentang leluluhur biji kopi yang sedang kami nikmati. Perjalanan panjang menemukan sang pembebas hutang. Bagi Nuri, pemilihan benih adalah langkah yang paling menentukan bagi seorang petani ketika mulai berkebun kopi. Kegundahannya akan hutan Malabar yang kian gundul menuntunnya untuk berburu benih kopi ke berbagai daerah di Indonesia. Ia menyambangi Kintamandi di Bali, belajar ke Jember, hingga menyeberang ke Medan.
Akhirnya sampailah ke Medan. Bapak Ketemu dengan petani di sana. Dikasihlah oleh petani di sana 5.000 butir benih kopi pada tahun 2001 itu, "Ujar Nuri mengenang.
Nasib Petani di Pengalengan maupun di Tarutung sama saja; terlilit hutang. Bagi para petani kopi di Tarutung, benih kopi yang diberikan kepada Nuri itu sungguh membawa berkah. Konon, karena menanam kopi itu, para petani mampu terbebas dari hutang. Oleh karena itulah, para petani menamai benih kopi tersebut kopi arabika varietas "Sigarar Hutang" yang dalam bahasa Indonesia berarti "si Pembebas Hutang".
"Disebut arabika sigarar Hutang karena orang yang tadinya banyak hutang, bisa melunasi hutangnya setelah menanam ini. Sama, di sini (Pangalengan) juga seperti itu, " tuturnya terkekeh.
Butiran benih kopi sigarar hutang itu disemainya baik-baik. Setelah siap tanam, bersama dua rekannya, benih-benih itu di tanam dilahan dua hektare milik Perhutani di lereng Gunung Malabar pada ketinggian 1.511 meter di atas permukaan laut secara tumpang sari dengan sayuran.
Hingga pohon kopi membesar, perlahan-lahan kebun sayuran tergantikan seluruhnya oleh tanaman kopi. 
Ketika tiba masa panen, sigarar hutang tak mengecewakan. Cita rasa biji kopi malabar hasil budidaya dari kopi sigarar hutang berhasil memikat hati para penikmat kopi. Respon positif itu menumbuhkan semangat Nuri dan rekan-rekannya kian getol belajar budidaya dan mengolah kopi.
"Bapak tanam kopi di sini kan bukan serbadidik, tapi serbadadak. Tanam kopi kan asalanya untuk konservasi. Tapi ketika ada nilai lebih, bapak mulai memperhatikan budidaya dan pengolahannya," ujarnya.
Hingga saat ini, hanya ada tiga kebun sumber benih kopi arabika varietas sigarar hutang ini di Indonesia. Salah satunya, milik kelompok Tani Rahayu di Malabar yang disebut kebun sumber benih Supriatni DInuri. Dua lainnya, yaitu milik Togi Situmorang dan Awaludin di Sumatera Utara. "Bisa dikatakan itu (segarar hutang) adalah orangtua kopi saya," ujar Nuri.
Perlahan, kesejahteraan petani kopi dalam kelompoknya beringsut membaik. Setidaknya hal itu dibuktikan dengan pendapatan yang lebih pasti, ketimbang ketika bekerja di kebun sayuran. Jika dibandingkan dengan upah minimum yang berlaku, jumlah upah yang diterima petani memang lebih kecil.
"Tapi, sekarang lebih pasti. Jadi Enggak ngutang lagi, enggak banyak kasbon lagi seperti dulu," tutur salah seorang petani, Komala.
Selain itu, para petani memiliki tambahan pendapatan dari kebun kopi yang dikelolanya secara mandiri. Rata-rata petani memiliki lahan garapan seluas satu hingga dua hektare. Ada juga petani yang memiliki lahan seluas delapan hektare, tergantung jumlah anggota dalam kelompoknya.

Membantu Warga
Kesejahteraan petani yang membaik itu memicu ketertarikan para petani lainnya. Mereka lalu beralih menjadi petani kopi. Dari semula hanya 7 petani yang bergabung dengan Nuri, kini ada 367 petani yang tergabung dalam empat kelompok tani yang menanam kopi di sepanjang lereng Gunung Malabar. Mereka bersama-sama mengelola lahan Perhutani di zona pemanfaatan seluas 328 hektare.
Seiring dengan permintaan kopi malabar hasil budidaya sigarar hutang yang terus meningkat, Nuri dan  petani-petani lainnya tak berhenti pada penanganan di hulu on farm). Salah satu penentu kualitas kopi yang paling penting ada pada proses pengolahan di hilir atau pascapanen.
Berbekal modal seadanya, Nuri mempelajari proses pengolahan pascapanen yang meliputi fermentasi, penjemuran,pengupasan kulit tanduk dan kulit ari, penyangraian, penepungan, penyeduhan, hingga penilaian skor kualitas kopi. Rangkaian proses pengolahan pascapanen itu ditularkannya ke petani-petani lainnya. Diharapkan, semua petani dapat memiliki keahlian di setiap tahapan proses dari hulu hingga hilir.
Lambat laun, Kampung Pasirmulya membentuk identitas barunya,yaitu sebagai kampung kopi. Sebab, sebanyak 166 petani yang menjadi anggota Kelompok Tani Rahayu seluruhnya adalah warga kampung Pasirmulya. Tanpa melihat ijazah pendidikan, mereka dilatih dari mulai pembibitan, penanaman, pengolahan, hingga penjualan kopi, baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri. Anak-anak muda di kampung itu kini tak lagi tertarik bekerja ke kota atau menjadi buruh migran ke luar negeri. "Mereka memilih mending kerja di kampung." tuturnya.
Sigarar Hutang di Pangalengan tak hanya membebaskan petani Kampung Pasirmulya dari Hutang, tetapi mengubah wajah kampung kopi yang dikenal di Asia Timur. Reff. Lina Nursanty (Koran Pikiran Rakyat).

Tag : 
Simak juga Budidaya Perternakan yang lain
Posting Komentar

Follow by Email